Cetak Artikel Ini  
School Life
School Profile | Course & Club | School Life
Meninggalkan Anak Sekolah Tanpa Menangis



Jangankan menghampirinya, berkata-kata pun sulit sekali karena tertutupi rengekan melengking memekakkan telinga sambil aksi berguling-guling di lantai atau tanah. Seorang pakar Steve Biddulph mengatakan bahwa; “Anak yang sedang merajuk sebetulnya memojokkan kita sampai akhirnya diberikanlah perlakuan isimewa, lalu dengan berat hati kita penuhi permintaan mereka.” Salah satunya dengan membeli mainan. Tapi perlakuan istimewa itu pun tidak betul-betul berkenan di hatinya. Cuma melunakkan hatinya untuk sementara saja, padahal di dalam hatinya ia tetap menyimpan rasa marah serta kecewa, untuk “dimanfaatkan” olehnya pada kesempatan berikutnya.

Menangis Setiap Kali
Pernah ada anak yang baru satu pekan  menginjakkan kakinya di Taman Kanak-kanak, setiap harinya selalu saja menangis ketika ditinggal pulang oleh ibunya, Rachel namanya. Pihak sekolah memberi target dalam jangka waktu sepekan menghilangkan rengekan dan jeritan. Tetap saja Rachel belum siap bergabung belajar dan bermain bersama temannya. Biasanya yang mengantar sekolah adalah ibunya dengan mengendarai sepeda motor. Karena hujan, Rachel diantarkan ayahnya dengan mobil. Kami para guru sepakat tidak akan menyambut Rachel bila ia tidak berinisiatif turun dari kendaraan beroda empat itu. Sampai acara penyambutan anak selesai, Banu masih saja nongkrong di jok belakang sambil asik meneguk secangkir susu hangat. Seluruh anak dan orangtua sudah tidak ada di gerbang sekolah saat itu kecuali hanya ada Rachel dan ayahnya.

Guru Mencari Solusi
Saya menunggu di dalam sekolah sampai satu jam berlalu. Dia tak muncul juga. Ketika Rachel masuk bersama ayahnya menjadi tak tega dan membawanya kembali keluar menuju pintu utama sekolah, begitu seterusnya.

Karena tidak ada guru yang beraksi, saya pun datang menghampiri Rachel. Saya langsung memegang pundaknya yang mungil dan terus menatap Rachel dengan posisi setengah duduk. Saya berusaha bicar memberikan motivasi,
“Banu hari ini mau sekolah kan?” Dia malah bersembunyi di balik badan ayahnya. Sambil meneteskan air matanya, Rachel menjawab, “Nggak, nggak mau, Rachel nggak mau sekolah.” “Kenapa Rachel tidak mau sekolah?” “Tidak, Rachel nggak mau sekolah.” Dengan nada bergetar ayahnya mulai bicara,

“Bagaimana ya Pak, kalau seperti ini?” “Sebenernya cuma satu cara saja, Pak. Bapak harus tega meninggalkan Rachel bersama saya.” “Saya sekarang minta izin untuk menggendong Rachel untuk membawa ke dalam, ya, Pak?”
Walaupun mertonta sekuat tenaga, Rachel tidak saya lepaskan sampai dia siap untuk mengikuti kegiatan. “Ya, silakan Rachel boleh nangis, nanti kalau sudah tenang boleh bicara.” Rachel tak ada pilihan lain. Tangisannya mulai reda sekarang hanya terdengar suara sesegukan, menandakan saatnya bicara.

“Rachel takut sama teman-teman?” Rachel dengan gerakan lemah menganggukkan kepalanya bertanda  selama ini ia ada masalah dengan temannya, tapi Rachel takut untuk bicara. Kebetulan guru dan teman-teman kecil sedang berkumpul untuk memulai kegiatan pembacaan ikrar. Inilah momen berharga bagi saya untuk meyakinkan Rachel bahwa teman-teman siap bersama Rachel. “Rachel, Bapak mau bicara dengan teman-teman Rachel…!” Dengan suara agak keras saya menyapa mereka. “Teman-teman hari ini dan seterusnya siap bersama Rachel?” Serempak dan kompak menjawab, “Siap Pak!”

Meskipun Rachel merasa belum siap ke sekolah, saya tidak berkecil hati dan tetap optimis. Saya yakin besok Rachel sudah siap bergabung dan melebur bersama para guru dan anak-anak titipan para orangtua.

Ternyata benar. Keesokkan hari, Rachel dengan mantap melangkahkan kakinya menuju kelas, segera masuk ke dalam sekolah, padahal ketika itu ibunya sedang asyik mengobrol dengan para guru.

Memberi Kepercayaan pada Sekolah
Menurut Ery Soekresno, Psi, Anak-anak Taman Kanak-kanak perlu dipersiapkan untuk menghadapi sekolahnya yang baru. Ada yang disebut masa transisi si mana anak perlu tahu siapa teman-temannya, siapa guru-gurunya.

Anak usia 6 tahun yang baru lulus TK biasanya masih memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri. Ada anak yang memerlukan waktu lebih lama untuk dapat menyesuaikan diri dan salah satu penyebabnya bukan karena anak belum mampu tapi lebih karena orangtua yang tidak tega meninggalkan anaknya. Mungkin orangtua tidak pernah menyampaikan secara verbal bahwa dirinya belum tega meninggalkan anaknya. Anak dapat merasakannya ketika orang tuanya sebenarnya belum tega.

Dari mana anak tahu? Dari bahasa tubuh , anda suara, dan ekspresi wajah orangtuanya. Anak akan melihat dan merasakan pesan yang dikirim orangtuanya. Memberi kepercayaan kepada sekolah yang telah dipilih akan mempercepat anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru. Pilihlah sekolah yang kita yakin pada kualitas sekolah maupun gurunya. 

 1  |  2  |  3  |  4  |  5  |  6  |  7  |  8  |  9  |  10  | »    
BACA JUGA



Disclaimers:
Opinion expressed by author and advertisers are not necessarily those of the editor and publisher. While every case has been taken in the compilation of materials in this site, Nasyith Majidi, the editor and publisher of this site accepts no responsibility for any errors or omissions therein. Readers are advised to consult their medical practitioners for advice on any health and parenting problems.

 
Edisi September 2010
 
PILIH EDISI
-  
 
X-Poll
poll
Apa kendala terberat Anda menjelang lebaran tahun ini?
 Asisten Rumah Tangga pulang kampung
 Biaya mudik membengkak
 Pekerjaan kantor menumpuk
 Liburan yang pendek

Lihat Hasil
Vote