Kemandirian adalah dasar dari tumbuhnya kesadaran diri yang akan membuat anak memiliki kesadaran akan lingkungan. Menurut ahli, anak-anak yang kurang mandiri tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Anak yang kurang mandiri juga tidak akan berani untuk mengajukan ide-idenya atau inisiatif. Anak yang tidak memiliki inisiatif tidak akan menjadi anak yang produktif. Produktif di sini artinya mau dan mampu bekerja baik untuk memenuhi kebutuhannya sendiri atau untuk membantu orang lain.
Kemandirian tesebut perlu dilatih. Banyak orangtua mengartikan sayang dengan cara menolong segala hal yang sebenarnya anak itu sudah dapat melakukannya sendiri. Ada juga yang memakai prinsip yang penting cepat beres, akhirnya anak tidak terbiasa melakukan apa-apa untuk dirinya sendiri.
Berikut beberapa tips yang disarankan oleh Ilham Sembodo, Kepala Sekolah Kebon Maen, Depok.
- Pada saat makan diusahakan anak untuk mengambil dan makan sendiri. Tidak masalah jika sisa makan berceceran di lantai, kalau hal itu terjadi kita persilakan mereka untuk bertangung jawab membersihkannya. Namun, kita selaku orangtua membiasakan dengan mencontohkan 2x sampai 3x dan anak diminta untuk melanjutkan, sehingga lama-kelamaan tidak perlu bantuan lagi dan hasilnya akan menjadi mandiri.
- Pakailah sepatu tanpa dibantu, biarkan dia mengeksplor kira-kira yang manaakah sepatu kiri dan sepatu kanan?
- Ketika terjatuh dan menangis jangan langsung digendong, tapi biarkan ia selesaikan tangisannya sampai ia siap untuk bercerita kenapa ia bisa terjatuh.
- Kalau menangis karena dipukul temannya, pertemukan kedaua anak itu di sebuah tempat yang jauh dari kerumunan anak lain, lalu dengarkan mereka bercerita duduk perkara kejadian sampai mengakibatkan menangis sesuai versi masing-masing. Bagi pelaku yang membuat masalah, ditegaskan untuk mencari solusi apa yang ia harus lakukan agar tidak terulang lagi kejadian tadi.
Apabila belum didapatkan solusinya, kita boleh membantu dengan beberapa pertanyaan mendalam, minta anak memilih. Misalnya; “Nak, kira-kira dengan memukul masalah selesai atau tidak?” atau bisa juga kita beri pertanyaan umpan balik, “Menurut kamu, apa yang akan kamu lakukan agar masalahnya selesai?” Setelah dapat solusi, baru kita buat kesepakatan antar mereka disertai konsekuensinya bila terulang lagi.
- Minta anak untuk membereskan kembali mainan atau perlengkapan yang telah dipakai, sebagai pancingan bisa dimulai dari kita dahulu. “Maaf Nak, sebelum kita pergi, kita bereskan dulu yuk mainannya. Mari Bapak bantu.”
- Jika ada kegiatan yang melibatkan anak secara langsung, seperti menggunting, mengelem, mengecet dan sebagainya, biarkan anak mencoba sendiri, kita cukup mengawasi saja kalaupun anak butuh bantuan porsi kita tidak dominan.
Itulah beberapa cara sederhana yang saya sarankan, tega membiarkan anak menangis, mengeluh, merajuk adalah modal penting bagi kita untuk mempermudah mereka mandiri. Stimulus tersebut juga harus diulang berkali-kali baru kita bisa melihat hasilnya. Kalau kita mau terburu-buru membimbing mereka, niscaya hasilnya juga akan berlangsung singkat, dan mereka melakukan bukan karena paham tapi karena takut akibat perilaku kita yang menekan dan memaksa.