|
Semut-semut The Natural School: Pemanasan Global? Semua Bisa Berubah Mulai dari Kelas
Saat ini dunia sudah berubah. Perkara lingkungan seperti pemanasan global menjadi semakin urgent. Apa yang bisa dilakukan? Menurut para ahli, semua persoalan ini bisa berubah dari kelas. Tentu saja, karena saat ini waktu anak lebih banyak di sekolah dibandingkan dengan orangtuanya di rumah. Berangkat dari sinilah Semut-Semut The Natural School berdiri. Secara sadar, sekolah mengambil amanah ini. “Persoalan yang up to date ini harus dimunculkan. Karena Abad 21 di depan mata. Anak-anak akan hidup di zaman itu dengan segala permasalahannya. Karena itulah anak-anak harus disiapkan dari sekarang,” kata Arfi Destianti, manajer Semut-Semut The Natural School.
Aksi Mikro untuk Makro Di semut-semut, anak-anak diajarkan bahwa kepedulian lingkungan tidak terbatas pada pengolahan sampah saja. Tentu saja, karena pengolahan sampah tidak mengubah habit. “Kepedulian lingkungan ini harus masuk betul pada habit anak-anak. Ini tidak mudah. Dibutuhkan kreativitas yang hebat dari para guru untuk melakukan hal nyata di tingkat mikro. Contohnya mengganti minuman kemasan di kantin dengan minuman sehat namun tetap enak, seperti air kelapa. Kegiatan mikro inilah yang terus dikembangkan di sekolah ini. Kami terus melakukan penyadaran-penyadaran sebatas pada pemikiran mereka,” jelas Arfi.
Lingkungan Sekitar = Laboratorium Living Together. Inilah salah satu ilmu yang dipelajari di sekolah ini. Maksudnya anak-anak diajak untuk bersentuhan betul dengan lingkungannya. Mereka diajak untuk belajar dari setiap kejadian di sekitar mereka. Misalnya ketika ada buah mangga yang jatuh dan busuk. Bersama guru, anak diajak untuk melihat lebih ‘jauh’. Anak diajak untuk berpikir. Mengapa buah itu jatuh? Siapa yang makan buah ini? Begitu pun saat melihat bunga yang layu, atau laba-laba dengan sarangnya. Di sinilah mereka belajar matematik, bahasa, sains bahkan agama.
Dengan kata lain, keterlibatan aktif anak dalam proses belajar, adalah jantung dari proses belajar efektif. “Cara belajar seperti ini membuat anak-anak tidak mudah melupakan materi pelajaran. Karena 90% ilmu masuk ketika mereka melakukan. Sementara dengan membaca cuma 30%. Contoh yang terjadi hari ini adalah wastafel mampet. Kejadian ini justru jadi pembelajaran. Kalau langsung diselesaikan dengan cara wastafel dipindah atau dibetulkan oleh teknisi, anak tidak akan belajar apa-apa. Justru dari kasus ini anak bisa melakukan pengamatan, wawancara, bahkan membuat laporan,” jelas Arfi lagi.
Tes Masuk Orangtua Saat penerimaan siswa baru, tak hanya siswa yang diuji di Semut-semut. Orangtua pun perlu diuji. Pihak sekolah ingin mengetahui lebih jauh ‘visi’ orangtua. Pertanyaan yang ditanyakan di antaranya tentang pola asuh yang diterapkan orangtua kepada anaknya di rumah, pandangan orangtua terhadap pemerdekaan pendidikan dan juga harapan orangtua dari sekolah ini. Bila harapannya adalah hanya mencari nilai akademis, tentu bukan di Semut-semut pilihannya. Itulah sebabnya hasil wawancara dengan orangtualah yang justru menentukan apakah anak diterima atau tidak. Sementara tes pada anak hanya untuk menempatan saja.
|